Pulau Moyo

duta infoPulau Dongeng tak hanya ada di film-film Disney. Di Indonesia pun ada, tepatnya di Pulau Moyo, Sumbawa. Bagaimana rasanya tidur tiga malam di tenda mewah yang pernah ditempati mendiang Lady Diana?
Hmmm, saya jadi teringat film Godzilla, yang tokoh utamanya terbang dengan pesawat kecil berbaling-baling dan mendarat di perairan sebuah pulau terpencil untuk mencari jejak sang monster raksasa. Siapa sangka hari ini saya mengalami adegan mirip film itu. Tapi bukan untuk mencari Godzilla, melainkan hendak berlibur di Amanwana, sebuah resor mewah di Pulau Moyo, utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Ada beberapa cara untuk mencapai resor yang semua vilanya berbentuk tenda ala safari ini. Bisa dengan terbang lebih dulu ke Sumbawa Besar, lalu diteruskan dengan jalan darat dan menyeberangi laut dengan kapal. Atau yang lebih praktis, terbang selama 1 jam dari Bali dengan pesawat khusus yang membawa tamu-tamu resor. Ongkosnya memang lumayan, sekitar 400 dolar AS per orang sekali jalan.

Esoknya, sehabis sarapan pagi, saya diajaknaik speedboat menuju Honeymoon Beach, pantai khusus bagi tamu yang berbulan madu. imageBlogDi kejauhan terlihat beberapa rumah dan perahu nelayan. Rupanya itu sebuah perkampungan kecil, namanya Brang Sedo. Pulau ini memang berpenduduk, meski hanya sekitar 2.000 jiwa. Mereka mendiami beberapa kampung dan desa yang terpencar-pencar. Desa terbesar adalah Labuan Aji, tak jauh di utara resor. Sebagian karyawan resor berasal dari sana.

Saya sempat berpikir, kalau ada perkampungan, apakah pasangan yang sedang berbulan madu tidak terganggu? Ternyata tidak, karena antara pihak resor dengan warga perkampungan sudah dibuat kesepakatan bahwa perahu-perahu nelayan tidak akan mendekat ke Honeymoon Beach.

Pantai yang kami tuju memang masih jauh lagi ke selatan. Di pantai berpasir putih dan sepi ini, yang ada hanyalah sebuah tenda sederhana bertiang bambu, beratap kanvas krem, beralaskan tikar bambu dengan sebuah kasur tertutup seprai putih, serta dua bantal. Pasangan yang akan ditinggal beberapa jam di sini juga dibawakan bekal piknik, minuman dalam cool box, serta radio panggil.

Honeymoon Beach ini berpantai landai dan lurus, lautnya  hanya beriak-riak kecil. Di belakang tenda terhampar pepohonan hutan yang rapat – daun-daun yang berguguran sengaja tidak dibersihkan. Suasananya sungguh hening, sampai-sampai  suara mesin perahu nelayan di kejauhan pun bisa terdengar. Tapi jarak perahu dengan pantai ini cukup jauh, jadi dijamin para nelayan itu tidak bakal bisa mengintip apa pun yang dilakukan para pengantin baru itu.

Sore harinya saya kembali naik speedboat, kali ini menuju Desa Labuan Aji. Desa utama di Pulau Moyo yang sering juga disebut  Labuh Aji ini menjadi pintu masuk menuju Air Terjun Lady DianaimageBlog (1), yang hendak kami tuju. Belum ada penginapan di sini. Rumah-rumah panggung khas Sumbawa di desa ini terlihat sepi. Penduduknya umumnya nelayan yang sedang melaut dan sebagian lagi sedang mencari madu di hutan.

Kami mampir ke rumah Muhtar, seorang penduduk desa, untuk mengambil jeep Willys. Amanwana memang punya dua unit jeep sisa Perang Dunia II ini  khusus untuk membawa para tamu yang hendak ke air terjun. Perlu waktu sekitar 30 menit naik jeep untuk sampai di pertigaan jalan tanah di tengah hutan. Meskipun disebut off-road, untunglah tidak seberat seperti yang sering ditayangan di televisi. Hanya ada sedikit guncangan dan tidak sampai membuat perut mual.

Dari sana, kami masih harustrekking di jalan setapak, sampai kemudian terlihat air terjun setinggi sekitar empat meter, sedikit terhalang oleh pepohonan. Warna kolam di bawahnya hijau zamrud jernih, yang airnya mengalir dan jatuh lagi ke jeram bersusun tak jauh di depannya. Nama sebenarnya adalah Air Terjun Matajitu. Tapi setelah Lady Di mengunjungi air terjun ini bersama beberapa pengawalnya – Pangeran Charles tidak ikut – orang lebih suka menyebutnya Air Terjun Lady Diana. Mick Jagger dan Bill Gates juga pernah menginap di Amanwana, tapi sepertinya tidak berkunjung ke air terjun ini.

Selanjutnya saya diajak berjalan menyusuri pinggir sungai. Ternyata, ada sebuah jembatan untuk menyeberangi sungai ini, dan dari sini pemandangannya lebih bagus lagi. Kami menyusuri jalan setapak melewati air terjun, ke arah hulu. Pohon-pohon hutan yang tinggi membuat suasana teduh dan sejuk. “Masih ada satu air terjun lagi, sekitar 500 meter dari sini,” tutur Mahdi, staf Amanwana yang menemani saya.

Ternyata air terjun yang kedua ini sungguh cantik, meski lebih pendek dari yang pertama. Air sungai di atasnya mengalir pelan melalui bebatuan yang berlapis-lapis seperti lantai bersusun, lalu mencurah turun dan jatuh ke kolam yang juga berwarna hijau zamrud. Dinding air terjunnya lebih mirip seluncuran air dan orang bisa duduk di bawahnya menerima curahan air yang tak begitu besar. Saya membayangkan, kalau Lady Di mandi, pasti dia mandinya di sini, bukan di air terjun yang meny